Fasilitator Labrusi Kankemenag Bantul Ikuti Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Perkuat Layanan Inklusif
Bantul (Kankemenag) – Kasubbag Tata Usaha Kementerian Agama Kabupaten Bantul (Kankemenag Bantul), Aminuddin, memberikan arahan pada kegiatan Pelatihan Bahasa Isyarat dalam rangka peningkatan kapasitas dan kompetensi fasilitator Labrusi (Layanan Bimbingan Remaja Usia Sekolah Inklusi) Kankemenag Bantul. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Subbag TU, Rabu (15/07/2026).
Dalam pelatihan dihadirkan Guru SLBN 2 Bantul, Mitha Arina Widiarti, sebagai narasumber. Kegiatan diikuti para fasilitator Labrusi yang terdiri atas Penyuluh Agama Islam, yaitu Nuraeni, Sri Sumiyatun, Khotimatul Husna, Lily Wakhidah, Bikri Salimah, Nuruddin, Fauzan Luthfiyanto, dan Latifah.
Dalam arahannya, Aminuddin menegaskan bahwa peningkatan kompetensi bahasa isyarat menjadi bagian penting dalam mendukung terwujudnya layanan keagamaan yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas, khususnya peserta didik di Sekolah Luar Biasa (SLB).
"Melalui pelatihan ini, kami berharap para fasilitator Labrusi memiliki kemampuan dasar berbahasa isyarat sehingga mampu membangun komunikasi yang efektif dengan peserta didik penyandang tuli. Komunikasi yang baik akan memudahkan proses penyampaian materi sekaligus menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan inklusif," ujar Aminuddin.

Ia menambahkan bahwa kehadiran Labrusi merupakan bentuk komitmen Kankemenag Bantul dalam memberikan layanan bimbingan keagamaan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
"Setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan keagamaan yang berkualitas. Karena itu, para fasilitator perlu terus meningkatkan kompetensi agar mampu memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan peserta. Inklusivitas bukan hanya tentang menyediakan layanan, tetapi juga memastikan layanan tersebut benar-benar dapat diterima dan dipahami oleh semua," tambahnya.
Sementara itu, narasumber Mitha Arina Widiarti memberikan pengenalan dasar bahasa isyarat, mulai dari alfabet, kosakata sehari-hari, hingga teknik berkomunikasi yang efektif dengan penyandang tuli. Peserta juga diajak melakukan praktik langsung agar lebih memahami penggunaan bahasa isyarat dalam situasi pembelajaran.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para fasilitator Labrusi semakin siap mendampingi remaja usia sekolah berkebutuhan khusus dalam kegiatan bimbingan keagamaan, sehingga layanan yang diberikan Kankemenag Bantul semakin inklusif, humanis, dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. (Dnd)